Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum <p><strong>Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora [</strong><a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220909021197432"><strong>e-ISSN 2962-0120]</strong></a><strong> | DOI 10.57248] </strong>is intended to develop itself as a pioneer journal in social sciences and humanities. Starting from the year 2022, it publishes all papers in English and Indonesian. Areas relevant to the scope of the journal include Social Sciences, Education, Media and Communication studies, Law, Tourism, Arts and Culture, Linguistics, Literature and Philosophy.</p> en-US info.jishum@gmail.com (Puspita Dewi) insankreasimedia@gmail.com (M. Zaki Pahrul hadi) Sat, 06 Jun 2026 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.11 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Pergeseran Makna dalam Terjemahan Lagu “Straight Edge” oleh Minor Threat https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/890 <p>Musik <em>punk hardcore</em> tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk penyampaian ideologi dan perlawanan sosial. Lagu “Straight Edge” karya Minor Threat pada 1981 menjadi salah satu representasi penting dari subkultur punk yang menolak alkohol, narkoba, dan perilaku destruktif. Namun, dalam proses penerjemahan ke bahasa Indonesia, terjadi pergeseran makna yang memengaruhi simbol, metafora, dan ideologi yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan jenis pergeseran makna semiotik dalam terjemahan lagu “Straight Edge”, mengkaji dampaknya terhadap ideologi dan identitas subkultur punk hardcore, serta menelaah interaksi antara terjemahan, budaya, dan konstruksi ideologis. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Barthes, teori pergeseran terjemahan Munday, serta model <em>encoding-decoding</em> Hall melalui pembacaan mendalam terhadap sembilan bait lirik asli lagu <em>Straight Edge</em> beserta terjemahan bahasa Indonesia yang disusun dan diinterpretasikan oleh penulis sebagai teks sasaran penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar simbol konotatif mengalami reduksi menjadi makna denotatif, bahasa kasar disensor, dan metafora sosial dilemahkan sehingga pesan perlawanan berubah menjadi seruan moral individual. Proses lokalisasi budaya dan netralisasi menyebabkan identitas subkultur <em>Straight Edge</em> kehilangan dimensi historis dan politisnya, serta lebih mudah diterima dalam konteks kolektivis dan religius masyarakat Indonesia. Temuan ini menegaskan bahwa penerjemahan lagu bukan sekadar konversi bahasa, melainkan juga rekonstruksi budaya dan ideologi yang menegosiasikan makna sesuai dengan audiens sasaran serta lebih mudah diterima dalam konteks budaya Indonesia sehingga mengalami penyesuaian terhadap nilai-nilai sosial yang dominan.</p> Dian Listiani, Afriliani Copyright (c) 2026 Dian Listiani, Afriliani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/890 Mon, 29 Jun 2026 00:00:00 +0000 Integrasi Nilai-Nilai Toleransi dalam Media Sosial sebagai Sarana Edukasi Multikultural https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/807 <p>The development of digital technology has brought significant changes in the patterns of social interaction, particularly through the use of social media as a means of communication, information exchange, and public opinion formation. The presence of social media allows people to interact without limitations of space and time, thus accelerating the spread of information, culture, and social values ​​in a multicultural society. In the context of Indonesia, which has cultural, religious, and ethnic diversity, the value of tolerance is an important aspect in maintaining social harmony and strengthening unity. However, social media not only has a positive impact, but is also often used as a space for the emergence of intolerance, hate speech, discrimination, hoaxes, and social conflict due to the low digital literacy of the community. This study aims to examine the integration of tolerance values ​​in social media as a means of multicultural education in the digital era. The method used is a qualitative approach with a literature review. Data were obtained from various scientific sources, such as journals, books, articles, and previous research results relevant to the research topic. The results of the study indicate that social media has great potential as a medium for multicultural education through the distribution of educational content, digital campaigns, interactive discussions, and cross-cultural interactions that can increase understanding and appreciation of diversity. Furthermore, strengthening digital literacy, multicultural education, and collaboration between communities, educational institutions, governments, and social media platforms are crucial steps in creating an inclusive, safe, and tolerant digital space. With wise use, social media can be an effective tool for instilling values ​​of tolerance, empathy, and mutual respect in a multicultural society.</p> Elisa Prima Sari, Rahma Talita Syahada, Taat Wulandari Copyright (c) 2026 Elisa Prima Sari, Rahma Talita Syahada, Taat Wulandari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/807 Sat, 06 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Strategi Penerjemahan Ekspresi Idiomatik dan Kesepadanan Makna dalam Film Set It Up https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/822 <p>This study is motivated by the importance of accurately translating idiomatic expressions in audiovisual media in order to maintain meaning equivalence between the source language and the target language. Idiomatic expressions, as forms of non-literal expressions, often create difficulties in the translation process. This study aims to analyze the translation strategies used in translating idiomatic expressions in the film <em data-start="427" data-end="438">Set It Up</em> and to evaluate the level of meaning equivalence in the translated version. The research employed a descriptive qualitative method with a content analysis approach, which included the identification, classification, and interpretation of data in the form of idiomatic expressions found in the film dialogues and their Indonesian translations. The results indicate that various translation strategies were applied, such as the use of equivalent meanings, paraphrasing, and omission in certain contexts. The level of meaning equivalence varied depending on the selected strategies and their contextual use. This study is expected to provide insight into the complexity of translating idiomatic expressions in audiovisual media and its contribution to audience comprehension.</p> Ida Husniati, Misyi Gusthini Copyright (c) 2026 Ida Husniati, Misyi Gusthini https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/822 Sat, 06 Jun 2026 00:00:00 +0000 Pendidikan Sebagai Agen Reformasi Sosial https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/817 <p>Penelitian ini menelaah peran pendidikan sebagai motor reformasi sosial dengan menempatkan pemikiran filosofis John Dewey sebagai kerangka utama. Dewey memandang sekolah sebagai miniatur masyarakat yang berfungsi membentuk kebiasaan, nilai, dan kesadaran kritis melalui pengalaman langsung. Perspektif ini menekankan bahwa pendidikan tidak sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan sebuah interaksi sosial yang melibatkan partisipasi aktif peserta didik dalam kehidupan komunitas. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini mengkaji literatur akademik yang relevan untuk mengidentifikasi kontribusi pendidikan terhadap transformasi sosial di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa relevansi pendidikan di Indonesia terletak pada kemampuan kurikulum untuk beradaptasi dengan dinamika zaman, penguatan modal sosial, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan juga berperan sebagai wahana transmisi budaya, menjaga nilai lokal sekaligus membuka ruang akulturasi dengan unsur global. Dalam konteks modernisasi dan era digital, pendidikan dituntut untuk mengintegrasikan literasi teknologi dengan pendidikan karakter agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Selain itu, pemerataan akses pendidikan inklusif menjadi syarat penting untuk mengurangi ketimpangan sosial dan ekonomi. Penelitian ini menegaskan bahwa transformasi sosial yang berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui sinergi antara kebijakan pendidikan yang inklusif, kapasitas pendidik yang adaptif, serta partisipasi aktif komunitas. Dengan demikian, pendidikan dapat berfungsi sebagai agen reformasi sosial yang adil, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia masa kini.</p> <p>&nbsp;</p> Ratna Fauziatul Istiqomah , Muhammad Muchlish Huda, Navilatur Rosyidah, Muhammad Hasan Al-Ilyas, Salam Edi Riyanto Copyright (c) 2026 Ratna Fauziatul Istiqomah , Muhammad Muchlish Huda, Navilatur Rosyidah, Muhammad Hasan Al-Ilyas, Salam Edi Riyanto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/817 Sat, 06 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Hubungan Resiliensi terhadap Kualitas Hidup Remaja Pemain Game Online https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/826 <p>Intensitas bermain game online yang tinggi dapat memengaruhi fungsi psikososial remaja, terutama ketika kemampuan regulasi diri, dukungan keluarga, dan orientasi masa depan belum berkembang optimal. Di Desa Kerembong, sebagian remaja usia akhir diketahui menghabiskan banyak waktu untuk bermain game, belum bekerja, dan masih bergantung pada orang tua. Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas hidup dan menegaskan pentingnya resiliensi sebagai faktor protektif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan resiliensi dengan kualitas hidup pada remaja pemain game online. Metode: penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan potong lintang pada 54 remaja usia 18–21 tahun di Desa Kerembong, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah. Sampel dipilih secara purposive. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner resiliensi dan WHOQOL-BREF versi Indonesia, lalu dianalisis secara univariat dan korelasi Pearson setelah pengujian asumsi statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden berusia 21 tahun (37,0%) dan lulusan SMA (46,3%). Kualitas hidup responden cenderung kurang baik (53,7%), sedangkan tingkat resiliensi paling banyak berada pada kategori sedang (51,8%). Uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang bermakna antara resiliensi dan kualitas hidup (r = 0,440; p = 0,001). Artinya, semakin baik resiliensi remaja, semakin baik pula kualitas hidup yang mereka rasakan. Resiliensi merupakan faktor penting yang berkaitan dengan kualitas hidup remaja pemain game online. Program promosi kesehatan jiwa, penguatan dukungan keluarga, serta pengembangan keterampilan koping adaptif perlu diintegrasikan dalam intervensi berbasis komunitas.</p> Rias Pratiwi Safitri, Harlina Rusiana, Baiq Nurul Hidayati, Iin Husnia Defi Copyright (c) 2026 Harlina Rusiana, Rias Pratiwi Safitri, Baiq Nurul Hidayati, Iin Husnia Defi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/826 Sat, 06 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Teknik Penerjemahan Refrensi Budaya Tionghoa dalam Takarir Indonesia Film “Over The Moon” https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/827 <p>Film Over the Moon menampilkan berbagai referensi budaya Tionghoa yang memiliki tantangan dalam proses penerjemahan, khususnya dalam takarir bahasa Indonesia. Perbedaan budaya dan bahasa menyebabkan perlunya strategi penerjemahan yang tepat agar makna budaya tetap tersampaikan kepada penonton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik penerjemahan referensi budaya Tionghoa dalam takarir bahasa Indonesia pada film Over the Moon. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis). Data diperoleh dari dialog film dan takarir bahasa Indonesia yang kemudian dianalisis berdasarkan teknik penerjemahan Molina dan Albir yaitu borrowing, literal translation, adaptation, reduction, dan generalization. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima teknik yang digunakan dalam penerjemahan referensi budaya Tionghoa pada subtitle film <em>Over the Moon</em> yaitu borrowing, literal translation, adaptation, reduction, dan generalization. Dari total 11 data yang dianalisis, teknik generalization muncul paling dominan dengan 3 data atau 27,27%. Dominasi teknik generalization menunjukkan bahwa penerjemah cukup sering menyederhanakan istilah budaya yang dianggap kompleks atau kurang familiar bagi penonton sasaran, sehingga lebih mudah dipahami tanpa mengurangi makna utama. Keempat teknik lainnya, yaitu borrowing, literal translation, adaptation, dan reduction, masing-masing muncul sebanyak 2 kali dengan persentase yang sama, yaitu 18,18%.</p> Ziah Safitri Copyright (c) 2026 Ziah Safitri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/827 Sat, 06 Jun 2026 00:00:00 +0000 Prinsip Good Faith dan Good Governance dalam Hukum Kontrak Bisnis Internasional dan Hukum Administrasi Negara https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/848 <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis konvergensi prinsip <em>good faith</em> dalam hukum kontrak bisnis internasional dan prinsip <em>good governance</em> dalam hukum administrasi negara. Kajian ini penting karena hubungan hukum privat dan publik semakin menuntut adanya standar etik, transparansi, akuntabilitas, dan kepastian hukum dalam praktik bisnis maupun penyelenggaraan pemerintahan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Bahan hukum yang dianalisis meliputi peraturan perundang-undangan, prinsip hukum kontrak internasional, doktrin hukum, serta literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip <em>good faith</em> dan <em>good governance</em> memiliki kesamaan nilai dasar berupa kejujuran, keterbukaan, akuntabilitas, kepastian hukum, keadilan, dan larangan penyalahgunaan hak maupun wewenang. Dalam hukum kontrak bisnis internasional, <em>good faith</em> berfungsi menjaga keseimbangan hak dan kewajiban para pihak, mencegah perilaku oportunistik, serta memperkuat kepercayaan dalam hubungan kontraktual. Sementara itu, dalam hukum administrasi negara, <em>good governance</em> menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan yang baik sesuai Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB). Konvergensi kedua prinsip tersebut menunjukkan bahwa hukum privat dan hukum publik memiliki titik temu dalam membangun relasi hukum yang adil, transparan, dan berintegritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai <em>good faith</em> dan <em>good governance</em> berkontribusi terhadap penguatan kepastian hukum, perlindungan hukum, dan tata kelola yang berkeadaban dalam hubungan hukum bisnis maupun administrasi negara.</p> Usman Munir, Firzhal Arzhi Jiwantara Copyright (c) 2026 Usman Munir, Firzhal Arzhi Jiwantara https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/848 Sat, 06 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Tindak Tutur Direktif dan Pesan Edukasi Keselamatan pada Kanal Youtube ‘Sheriff Labrador’ https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/831 <p>Perkembangan media digital telah menjadikan YouTube sebagai salah satu ruang belajar informal yang banyak diakses oleh anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan fungsi tindak tutur direktif serta pesan edukasi keselamatan yang disampaikan dalam segmen <em>Safety Tips</em> pada serial animasi <em>Sheriff Labrador</em>. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini membedah data dialog dan subtitle dari lima episode pilihan berdasarkan kerangka teori tindak tutur direktif George Yule (1996). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dan catat (<em>note-taking</em>). Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat jenis tindak tutur direktif yang digunakan secara terstruktur, dengan distribusi frekuensi dominan pada jenis <em>commanding</em>(memerintah) sebesar 38,5% dan <em>forbidding</em> (melarang) sebesar 30,8%. Selanjutnya, tindak tutur <em>suggesting</em>(menyarankan) ditemukan sebesar 23,1% dan <em>requesting</em> (meminta) sebesar 7,7%. Dominasi bentuk perintah langsung dan larangan keras mencerminkan karakteristik komunikasi mitigasi bahaya yang membutuhkan instruksi lugas, tegas, dan tidak ambigu bagi anak usia dini. Secara kontekstual, serial ini berhasil mentransformasikan konsep keselamatan preventif baik ancaman fisik maupun siber—menjadi panduan aplikatif yang melatih pemikiran kritis anak melalui penyampaian alasan logis dan keterlibatan peran orang tua. Penelitian ini berimplikasi pada pentingnya pemilihan strategi kebahasaan yang tepat dalam pembuatan konten edukasi digital guna memastikan pesan keselamatan dapat diinternalisasi dengan baik oleh penonton anak di dunia nyata.</p> Maryam Taqiyya Copyright (c) 2026 Maryam Taqiyya https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/831 Sat, 06 Jun 2026 00:00:00 +0000 Hibriditas Sosiolinguistik sebagai Mekanisme Konstruksi Identitas Transnasional Komunitas Reveurs dalam Novel The Night Circus https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/842 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena hibriditas sosiolinguistik dan pengaruhnya terhadap perubahan identitas budaya dalam novel <em>The Night Circus</em> karya Erin Morgenstern, sebuah karya sastra yang menggambarkan mobilitas sirkus lintas negara. Dengan menggunakan kerangka teori <em>Third Space </em>dari (Bhabha, 1994), <em>Anti-Language</em> dari (Halliday, 1976), dan <em>Linguistic Prestige</em> dari (Labov, 2006), penelitian ini membedah bagaimana unsur-unsur kebahasaan digunakan untuk membangun komunitas fiktif yang eksklusif, yakni para Rêveurs. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi terhadap sepuluh data lingual dan semiotik yang signifikan dalam narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hibriditas sosiolinguistik dalam novel ini memanifestasikan diri melalui alih kode, peminjaman leksikal, penggunaan register khusus, hingga simbol visual hibrid. Praktik kebahasaan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai strategi benteng sosial yang memisahkan komunitas dari dunia luar yang dianggap umum, sekaligus menciptakan solidaritas lintas negara yang melampaui batasan negara asal penuturnya. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa bahasa memiliki peran fundamental dalam menciptakan realitas sosial baru dan identitas kolektif yang hibrid dalam sastra fantasi. </p> Anin Nur Azizah, Nurfithri Copyright (c) 2026 Anin Nur Azizah, Nurfithri https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/842 Tue, 09 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Strategi Penerjemahan Metafora dalam Lagu-lagu Terpilih Bertema Perubahan Sosial pada Akhir Perang Dingin (1990-1991) https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/835 <p>Lirik lagu adalah salah satu bentuk karya sastra yang banyak menggunakan bahasa kiasan, salah satunya yaitu Metafora. Metafora merupakan gaya bahasa yang umum digunakan dalam lirik lagu untuk menyampaikan pesan-pesan sosial, historis, dan ideologis secara tersirat. Dalam proses penerjemahan, metafora sering kali menjadi tantangan karena perbedaan budaya dan variasi makna antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.Oleh karean itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penerjemahan metafora apa yang paling dominan digunakan dalam lagu-lagu terpilih yang bertemakan perubahan sosial, yaitu "Wind of Change" (Scorpions), dan "Heal the World" (Michael Jackson), serta bagaimana strategi tersebut mempertahankan urgensi historis dalam Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik simak dan catat. Data bersumber dari lirik asli bahasa Inggris dan teks terjemahan bahasa Indonesia dari kanal YouTube @hizkiahiko10 dan @delirik. Analisis data dilakukan meggunakan teori dan strategi penerjemahan metafora oleh Peter Newmark (1988). Hasil penelitian dari analisis lagu-lagu terpilih ini, menunjukkan strategi penerjemahan metafora yang paling dominan digunakan adalah strategi reproduksi imaji yang sama dalam Bahasa Sasaran (BSa) ditemuak 5 data (41,67%). Selain itu ditemukan pula penggunaan strategi konversi metafora menjadi makna sebanyak 3 data (25,00%), kombinasi metafora yang sama dengan makna dengan 2 data (16,67%), serta penggantian imaji Bahasa Sumber (BSu) dengan imaji standar dalam Bahasa Sasaran (BSa) sebanyak 2 data (16,67%). Strategi penerjemahan metafora yang digunakan tidak hanya mempertahankan keindahan estetika dan nuansa puitis dari lirik lagu tersebut, tetapi juga berhasil mempertahankan urgensi historis, sosial, dan ideologis dalam bahasa sasaran.</p> Vita Nursari Copyright (c) 2026 Vita Nursari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/835 Thu, 11 Jun 2026 00:00:00 +0000 Representasi ‘Kesepian’ Tokoh Utama Dalam Novel White Nights Karya Fyodor Dostoyevsky https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/837 <p>Penelitian ini membahas representasi kesepian tokoh utama dalam novel <em>White Nights</em>&nbsp;karya Fyodor Dostoyevsky. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk representasi kesepian yang dialami tokoh utama <em>“The Dreamer”</em>&nbsp;melalui pendekatan semiotika Roland Barthes dalam buku Mitologi, 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa teknik baca dan catat. Sumber data utama penelitian adalah novel <em>White Nights</em>&nbsp;terbitan tahun 2016. Analisis dilakukan melalui makna denotasi dan konotasi terhadap narasi serta dialog yang berkaitan dengan kesepian tokoh utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesepian dalam novel dipresentasikan melalui keterasingan sosial, konflik psikologis, kebutuhan emosional, serta dampak kesepian terhadap kehidupan tokoh utama. Tokoh <em>“The Dreamer”</em>&nbsp;digambarkan sebagai individu yang sulit membangun hubungan sosial sehingga lebih banyak hidup dalam dunia imajinasi dan pikirannya sendiri. Kehadiran tokoh Nastenka menjadi simbol harapan emosional yang memberikan rasa diterima dan dipahami bagi tokoh utama. Namun, berakhirnya hubungan tersebut membuat tokoh utama kembali mengalami kesedihan dan keterasingan yang mendalam. Analisis disimpulkan bahwa novel <em>White Nights</em>&nbsp;tidak hanya menggambarkan pengalaman pribadi tokoh utama, tetapi juga merepresentasikan kondisi manusia modern yang membutuhkan penerimaan, dan hubungan emosional yang bermakna. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam kajian sastra, khususnya mengenai representasi kesepian dan pendekatan semiotika dalam karya sastra.</p> Anif Ristiyani Copyright (c) 2026 Anif Ristiyani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/837 Fri, 12 Jun 2026 00:00:00 +0000 Representasi Latar Venesia dan Konstruksi Tokoh Peter Dedalus dalam Novel Ulysses Moore https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/839 <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis interaksi latar dan konstruksi tokoh sebagai sistem tanda yang saling membentuk makna, khususnya dalam novel yang sarat akan simbolisme seperti novel <em>Ulysses Moore Pulau</em> <em>Topeng</em>. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Barthes. Analisis dilakukan melalui tiga lapis pemaknaan, yaitu makna denotatif (tingkat pertama), makna konotatif (tingkat kedua), dan mitos (tingkat ketiga). Makna denotatif dan konotatif dikaji menggunakan kerangka <em>Elemen-Elemen Semiologi</em>, 2012. Sementara itu, mitos dikaji menggunakan kerangka <em>Mythologies</em>, 1972. Pengumpulan data berupa narasi dan dialog yang relevan dengan fokus penellitian dilakukan melalui studi pustaka dengan teknik baca dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar Venesia terkonstruksi sebagai sistem tanda kekuasaan yang melanggengkan hegemoni pengetahuan dan wacana melalui elemen-elemen seperti jalan-jalan sempit seperti labirin, budaya topeng, serta larangan Dewan Sepuluh terhadap sihir, penjualan jimat hingga percetakan buku. Sementara itu, Peter Dedalus terkonstruksi sebagai arketipe intelektual yang jatuh dan menebus kesalahannya melalui tanda-tanda rahasia mulai dari penggunaan nama palsu, sistem komunikasi tersembunyi, hingga tindakan impulsif yang justru memvalidasi kelemahan permanennya. Latar dan tokoh saling mengkonstruksi membangun satu sistem tanda terpadu yang mengasilkan mitos dominan dimana pengetahuan dalam sistem yang otoriter akan selalu ditemukan, dikejar, dan siapapun yang membawanya akan selalu memikul konsekuensi. Dengan demikian, analisis semiotika terhadap karya sastra khususnya novel bergenre petualangan akan lebih produktif apabila tidak terbatas pada identifikasi tanda secara individual, melainkan menelusuri bagaimana tanda-tanda tersebut saling mengkonstruksi makna melalui interaksi antara elemen-elemen naratif yang mencakupnya. </p> Salma Zahra Copyright (c) 2026 Salma Zahra https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/839 Fri, 12 Jun 2026 00:00:00 +0000 An Analysis of Subtitle Translation Strategies in Miss Peregrine's Home for Peculiar Children https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/840 <p>This study examines subtitle translation strategies in the official Indonesian subtitles of Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016), directed by Tim Burton. Guided by Pedersen's (2011) seven-strategy typological framework, the study employs a descriptive qualitative approach with content analysis as its primary method. A corpus of 44 purposively selected subtitle segments, drawn from Blu-ray rip files and cross-verified against official subtitles on Netflix and Disney+ Hotstar, was analyzed across four fantasy genre components: invented neologisms, world-building references, meaningful character names, and fantasy idioms and metaphors. Findings reveal that only three strategies were present in the corpus. Retention was dominant (68.2%), consistently applied to fantasy-specific neologisms such as ymbryne, hollowgast, and peculiar. Specification accounted for 22.7% of cases, used exclusively for the world-building term "loop" rendered as lingkaran waktu, while Direct Translation comprised the remaining 9.1%, applied to peculiarity as keanehan. The four remaining strategies were absent. The overall source-oriented tendency reflects translators' preference for terminological fidelity over cultural adaptation. These findings offer practical implications for subtitle translators and contribute to the growing body of audiovisual translation (AVT) research in Indonesia.</p> Joanna Felicia Andrianto Copyright (c) 2026 Joanna Felicia Andrianto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://journal.ikmedia.id/index.php/jishum/article/view/840 Tue, 16 Jun 2026 00:00:00 +0000